<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Erens</title>
	<atom:link href="http://erensdh.blog.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://erensdh.blog.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 11:41:19 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ajeng &#8216;Mama Mia&#8217;, show di Kefamenanu</title>
		<link>http://erensdh.blog.com/2008/08/07/ajeng-mama-mia-show-di-kefamenanu/</link>
		<comments>http://erensdh.blog.com/2008/08/07/ajeng-mama-mia-show-di-kefamenanu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 11:41:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erens</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Masyarakat kota Kefamenanu kembali berjubel di jalanan, kali ini mereka menyambut menyambut sang bintang Nama Mia, Ajeng Astiani (15), serta Dwi Astuti alias mama Cindy (36). Setelah berbulan-bulan Masyarakat kota Kefamenanu hanya bisa terpaku di tempat untuk menyaksikan kiprah sang pengamen jalanan itu di berbagai media visual maupun cetak, kini mereka punya kesempatan untuk bisa menyaksikan secara langsung sang pujaan hati mereka. Ajeng adalah anak ke dua dari enam bersaudara dari Harry CH serta Dwi Astuti alias mama Cindy, memang layak mendapat sambutan yang luar biasa dari penggemarnya di Kefamenanu, karena ia telah menapaki berbagai kesulitan hidup di ibu kota Jakarta. Masyarakat kefamenanu benar-benar tau bagaimana kisahnya, yang pernah di liput di berbagai media, cetak maupun visual. "Dia pernah ngamen di bus-bus, di jalan-jalan, pada berbagai sudut ibukota Jakarta", jawab seorang pemuda tanggung, yang tengah berdiri di jalan,saat menanti sang finalis mama mia pertama itu, saat ditanya siapa Ajeng itu. Di kisahkan, keikutsertaannya di ajang realitisow Mama Mia Indosiar itu hanyalah kebetulan saja, saat ia dan orang tuanya tengah mengamen di bus PPD 46, jurusan Grogol-Kampung Rambutan, jakarta. Seseorang penumpang wanita menyodorkan tabloid yang berisi pengumuman audisi Mama Mia. Penumpang itu bahkan menganjurkan kepada ke dua orang tuanya untuk mendaftarkan anak mereka agar bisa mengikuti audisi nanti. Kemujuran memang tengah berpihak kepada mereka, terbukti, dari 3000an peserta saat itu, Ajeng melenggang hingga babak semi final.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Masyarakat kota Kefamenanu kembali berjubel di jalanan, kali ini mereka menyambut menyambut sang bintang Nama Mia, Ajeng Astiani (15), serta Dwi Astuti alias mama Cindy (36). Setelah berbulan-bulan Masyarakat kota Kefamenanu hanya bisa terpaku di tempat untuk menyaksikan kiprah sang pengamen jalanan itu di berbagai media visual maupun cetak, kini mereka punya kesempatan untuk bisa menyaksikan secara langsung sang pujaan hati mereka. Ajeng adalah anak ke dua dari enam bersaudara dari Harry CH serta Dwi Astuti alias mama Cindy, memang layak mendapat sambutan yang luar biasa dari penggemarnya di Kefamenanu, karena ia telah menapaki berbagai kesulitan hidup di ibu kota Jakarta. Masyarakat kefamenanu benar-benar tau bagaimana kisahnya, yang pernah di liput di berbagai media, cetak maupun visual. &#8220;Dia pernah ngamen di bus-bus, di jalan-jalan, pada berbagai sudut ibukota Jakarta&#8221;, jawab seorang pemuda tanggung, yang tengah berdiri di jalan,saat menanti sang finalis mama mia pertama itu, saat ditanya siapa Ajeng itu. Di kisahkan, keikutsertaannya di ajang realitisow Mama Mia Indosiar itu hanyalah kebetulan saja, saat ia dan orang tuanya tengah mengamen di bus PPD 46, jurusan Grogol-Kampung Rambutan, jakarta. Seseorang penumpang wanita menyodorkan tabloid yang berisi pengumuman audisi Mama Mia. Penumpang itu bahkan menganjurkan kepada ke dua orang tuanya untuk mendaftarkan anak mereka agar bisa mengikuti audisi nanti. Kemujuran memang tengah berpihak kepada mereka, terbukti, dari 3000an peserta saat itu, Ajeng melenggang hingga babak semi final.
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erensdh.blog.com/2008/08/07/ajeng-mama-mia-show-di-kefamenanu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Komentar-komentarku</title>
		<link>http://erensdh.blog.com/2008/08/02/komentar-komentarku/</link>
		<comments>http://erensdh.blog.com/2008/08/02/komentar-komentarku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 11:20:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erens</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Setelah membaca ini semua, saya mendapat kesimpulan, pertama; ternyata fitnah-memfitnah sudah duluan ada di dalam kitab suci jauh sebelum film fitna itu beredar, coba kita cermati semua yang ada di sini, apakah kesimpulan saya yang salah? Kedua; film itu hanyalah cuplikan potongan-potongan dari apa yang ada dan bisa di buktikan. lalu siapa yang patut kita salahkan, apakah si pembuat film fitna itu ataukah si pelaku 11 september (contoh di indonesia misalnya si pelaku bom bali?) Coba kita objektif dalam menilai; Ketika film fitna yang menampilkan berbagai kejadian teror itu beredar maka di sambut dengan kemarahan kita semua, termasuk di indonesia ada demo besar-besaran. Tapi ketika kejadian 11 september atau bom bali itu terjadi, siapa yang turun demo untuk menentang atau marah atas kejadian teror itu? Bahkan si pelaku-pelakunya cenderung menjadi tokoh pujaan, apa artinya ini? Lalu siapa yang benar, siapa yang salah? Buruk rupa cermin di belah? Marilah kita ambil cermin untuk memastikan apa yang salah pada rupa kita, dan kita mestinya berterimakasih pada cermin itu bila kita mau tau apa kekurangan kita. Sekali lagi, janganlah cermin di belah tapi perbaikilah rupa kita yang justru di coreng oleh pelaku-pelaku anarkis, teror maupun bom-bom yang mengatas namakan agama kita, bahkan mengatasnamakan Allah Yang Maha Suci harus kita cegah bila prilakunya justru kesetanan. Setuju?
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Setelah membaca ini semua, saya mendapat kesimpulan, pertama; ternyata fitnah-memfitnah sudah duluan ada di dalam kitab suci jauh sebelum film fitna itu beredar, coba kita cermati semua yang ada di sini, apakah kesimpulan saya yang salah? Kedua; film itu hanyalah cuplikan potongan-potongan dari apa yang ada dan bisa di buktikan. lalu siapa yang patut kita salahkan, apakah si pembuat film fitna itu ataukah si pelaku 11 september (contoh di indonesia misalnya si pelaku bom bali?) Coba kita objektif dalam menilai; Ketika film fitna yang menampilkan berbagai kejadian teror itu beredar maka di sambut dengan kemarahan kita semua, termasuk di indonesia ada demo besar-besaran. Tapi ketika kejadian 11 september atau bom bali itu terjadi, siapa yang turun demo untuk menentang atau marah atas kejadian teror itu? Bahkan si pelaku-pelakunya cenderung menjadi tokoh pujaan, apa artinya ini? Lalu siapa yang benar, siapa yang salah? Buruk rupa cermin di belah? Marilah kita ambil cermin untuk memastikan apa yang salah pada rupa kita, dan kita mestinya berterimakasih pada cermin itu bila kita mau tau apa kekurangan kita. Sekali lagi, janganlah cermin di belah tapi perbaikilah rupa kita yang justru di coreng oleh pelaku-pelaku anarkis, teror maupun bom-bom yang mengatas namakan agama kita, bahkan mengatasnamakan Allah Yang Maha Suci harus kita cegah bila prilakunya justru kesetanan. Setuju?
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erensdh.blog.com/2008/08/02/komentar-komentarku/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hati Nurani</title>
		<link>http://erensdh.blog.com/2008/07/11/hati-nurani/</link>
		<comments>http://erensdh.blog.com/2008/07/11/hati-nurani/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 01:49:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erens</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Pernah aku bermain-main di rumah kenalanku, duduk membuang waktu dengan berbagai topik kata-kata penghalau waktu, tak berarti memang, hingga akhirnya ia pamit pergi, cuma sebentar katanya. Tinggalah aku bersama ketiga anak-anaknya, yang pertama anak gadis, sekitar empat tahunan, yang kedua mungkin di kurangi satu tahunan, begitu juga yang ke tiga, pasti di kurangi satu tahunan juga! Wah, mengapa aku tidak bertanya saja pada anak-anak kecil itu, ya kan?
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Pernah aku bermain-main di rumah kenalanku, duduk membuang waktu dengan berbagai topik kata-kata penghalau waktu, tak berarti memang, hingga akhirnya ia pamit pergi, cuma sebentar katanya. Tinggalah aku bersama ketiga anak-anaknya, yang pertama anak gadis, sekitar empat tahunan, yang kedua mungkin di kurangi satu tahunan, begitu juga yang ke tiga, pasti di kurangi satu tahunan juga! Wah, mengapa aku tidak bertanya saja pada anak-anak kecil itu, ya kan?
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erensdh.blog.com/2008/07/11/hati-nurani/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Nurani</title>
		<link>http://erensdh.blog.com/2008/07/10/nurani/</link>
		<comments>http://erensdh.blog.com/2008/07/10/nurani/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 13:44:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erens</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Bila kita tidak lagi menpercayai Allah sebagai Maha Pengasih, dengan tingkah-laku kita yang serba sewenang-wenang; menuduh, memfitnah, membenci bahkan membunuh sesama manusia, saya mengajak kita semua untuk kembali pada hati nurani yang cenderung tidak tega menjahati sesama manusia tanpa memandang suku, ras, dan agama.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Bila kita tidak lagi menpercayai Allah sebagai Maha Pengasih, dengan tingkah-laku kita yang serba sewenang-wenang; menuduh, memfitnah, membenci bahkan membunuh sesama manusia, saya mengajak kita semua untuk kembali pada hati nurani yang cenderung tidak tega menjahati sesama manusia tanpa memandang suku, ras, dan agama.
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://erensdh.blog.com/2008/07/10/nurani/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
